Kamis, 16 Juli 2009

Senang Susah Tetap Bersyukur


Suatu sore Nasrudin ditemani istrinya pergi ke kebun. Mereka berdua ingin memetik buah-buahan yang kelihatannya sudah mulai masak untuk diberikan kepada raja. Maklum raja Timurlenk rupanya punya hubungan yang sangat dekat dengan Nasrudin. Meski dia raja yang kejam, tapi kepada Nasrudin dia tetap berlaku sopan dan hormat. Barangkali karena kemasyhuran dari kesalehan dan kearifan yang ada pada diri Nasrudin yang membuat Timurlenk menaruh simpati.

Ketika mereka berdua sedang asyik memetik buah Ara (buahnya mirip tomat), istri Nasrudin berkata "Apakah tidak lebih baik kalo apel yang sudah masak juga dipetik?Tentu baginda raja akan sangat senang sekali".

Tapi jawaban Nasrudin mengherankan "Sudah petik saja apa yang saya perintahkan. Kalau saya bilang jangan, maka jangan coba-coba memetiknya."

Mereka berdua kembali sibuk memetik buah Ara dan memasukannya ke dalam keranjang.

"Pak, apakah buah delima juga dipetik? sudah masak sekali," teriak istrinya. "Tidak usah, buah Ara saja, Titik" sahut Nasrudin berteriak.

Keesokan harinya Nasrudin pergi ke istana dengan membawa keranjang penuh dengan buah Ara yang sudah masak. Sesampai di istana, Nasrudin disambut sang raja. Lalu Nasrudin menghadiahkan keranjang yang penuh dengan buah Ara kepada raja. Anehnya, setelah mengambil keranjang buah itu, sang raja meletakkan lagi keranjang itu diatas meja, lalu mengambil satu persatu buah Ara itu dan dilemparkan ke muka Nasrudin.

Raja begitu kaget, melihat Nasrudin yang dilempari buah Ara mukanya tenang saja tidak mengelak sedikit pun. Tapi mulutnya malah terus mengucap, "Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah..."

"Kenapa kamu malah berucap Alhamdulillah setiap aku melemparmu buah Ara?" tanya sang raja dengan wajah keheranan.

"Saya tidak bisa membayangkan kalau permintaan istriku dikabulkan. Wajah dan hidung saya sudah seperti apa. Untung saya hanya mengijinkan istri saya memetik buah Ara yang masak saja," katanya sembari mengusap mukanya yang berlumuran buah Ara.

(diambil dari cerita di buku "A book of wisdom", Tasirun Sulaiman)

Tidak ada komentar: