trial-run
Kamis, 16 Desember 2010
MAGANG MELON
Senin, 27 Juli 2009
Senin, 20 Juli 2009
Ribuan Orang Mengiringi Pemakaman Pahlawan Jilbab
Selasa, 07/07/2009 15:56 WIB Cetak | KirimKematian Marwa memicu kemarahan di kalangan komunitas Muslim di Jerman dan Mesir-negara asal Marwa-tetapi juga komunitas Muslim di berbagai negara. "Tidak ada Tuhan selain Allah dan orang-orang Jerman adalah musuh Allah," kata seorang warga Mesir yang ikut mengantarkan jenazah Marwa ke pemakaman.
"Kami akan membalas kematiannya. Barat, mereka tidak mau mengakui kita. Di sana ada rasisme," ujar Tarek Al-Sharbini, saudara lelaki Marwa.
Selain Marwa, suaminya juga menjadi korban dan sekarang masih dalam kondisi kritis di sebuah rumah sakit Dresden, Jerman. Suami Marwa secara tak sengaja terkena tembakan aparat saat sang suami mencoba melindungi istrinya yang diserang dengan senjata tajam oleh pemuda Jerman keturunan Rusia.
Peristiwa itu terjadi di ruang sidang di kota Dresden, saat Marwa akan memberikan kesaksian atas kasusnya. Marwa menuntut pemuda yang juga tetangganya itu ke pengadilan karena menyebutnya sebagai teroris hanya karena ia mengenakan jilbab. Marwa berada di Jerman mengikuti suaminya yang sedang melakukan riset dengan biaya beasiswa.
Menurut kakak lelaki Marwa, aparat mengira suami Marwa yang melakukan serangan sehingga petugas keamanan pengadilan itu menembaknya. "Para aparat keamanan itu berpikir, sepanjang orang itu tidak berambut pirang, maka dialah pelaku serangannya, dan mereka menembak suami Marwa," kata kakak lelaki Marwa.
Pemuda Jerman keturunan Rusia yang menyerang Marwa, bernama Alex W, 28, kini mendekam di penjara dan akan dikenakan tuduhan baru yaitu pembunuhan. Christian Avenarius, jaksa pengadilan Dresden mengatakan, Alex menusuk Marwa karena didorong rasa kebencian yang dalam terhadap Islam, karena sejak awal pengadilan, Alex yang berimigrasi ke Jerman tahun 2003 sudah mengungkapkan pernyataan-pernyataan anti-Islam dan anti-Muslim.
Dari wawancara di beberapa media Mesir, keluarga Al-Sharbini di Mesir mengatakan bahwa pelaku penusukan sudah sering menghina dan melecehkan Marwa, bahkan pernah mencoba melepas jilbab Marwa. Ibu Marwa, Laila Shams mengungkapkan, Marwa juga kesulitan mendapat kerja di Jerman karena ia mengenakan jilbab.
"Suatu kali, Marwa pernah disuruh melepas jilbab jika ingin mendapatkan kerja, tapi Marwa menolaknya," kata sang ibu.
Menanggapi kasus Marwa, Jubir pemerintah Jerman Thomas Steg mengatakan bahwa insiden ini berlatar belakang rasial dan pemerintah mengutuk keras pelakunya. Pemerintah Jerman baru bersuara atas kasus ini, setelah komunitas Muslim di negara itu mengecam pemerintah dan para politisi di Jernam yang diam saja atas kasus tersebut.
Menyindir sikap pemerintah dan para politisi di Jerman, harian independen di Mesir, El-Shorouk menulis, kalau korbannya Yahudi, barulah dunia gempar. Seorang bloger Mesir bernama Hicham Maged dalam blognya menulis,"Mari kita bayangkan, jika kondisinya dibalik, korban adalah orang Barat yang ditusuk di dunia atau di salah satu negara Timur Tengah oleh seorang Muslim ekstrim."
Atas insiden yang menimpa Marwa, Asosiasi Farmasi Mesir sudah menyerukan boikot terhadap obat-obatan dari Jerman.
Pemerintah Mesir belum mengeluarkan pernyataan atas peristiwa yang menimpa warga negaranya. Belum jelas apakah pemerintahan Husni Mubarak akan menuntut pemerintah Jerman bertangung jawab atas kasus ini. (ln/aljz/isc)
(diambil dari : http://eramuslim.com)
Kamis, 16 Juli 2009
Teman datang dan pergi...
Pernah bersama dalam komunitas yang sama, kecocokan membuat kita merasa dekat..walaupun ada jg ketidakcocokan..namun ikatan perasaan yg terbangun dg hubungan yg kita jalin setiap waktu membuat kita merasa bahwa itu adalah pertemanan.
Kegiatan..percakapan..canda tawa..kebersamaan..sampai masalah2 yg bikin kita pusing..membuat kita semakin yakin kalo kita sudah berteman.
Semenjak kecil sampai dewasa..sudah berapa byk teman yg datang dan pergi silih berganti...
Berkenalan..bersama..sampai akhirnya berpisah karena jarak yg memisahkan..kemudian ada yg menggantikan..dan seterusnya...
Ada suka..ada duka..ada cerita..ada hikmah..ada kenangan..itu yang tak pernah terpisahkan dari arti "teman"
Teman....walau jarak memisahkan kita, percakapan antara kita sdh tidak seperti dulu lagi..tidak ada kegiatan yg kita lakukan bersama lagi...tapi kenangan tentang kalian tetap tersimpan rapih didalam hati..indah..karena hidup akan hampa tanpa ada teman.
Semoga Allah swt selalu memberikan keberkahan untuk kalian semua teman-temanku..yg dekat maupun yg jauh..yg datang atau yg pergi...amiiin.
Ketika mereka berdua sedang asyik memetik buah Ara (buahnya mirip tomat), istri Nasrudin berkata "Apakah tidak lebih baik kalo apel yang sudah masak juga dipetik?Tentu baginda raja akan sangat senang sekali".
Tapi jawaban Nasrudin mengherankan "Sudah petik saja apa yang saya perintahkan. Kalau saya bilang jangan, maka jangan coba-coba memetiknya."
Mereka berdua kembali sibuk memetik buah Ara dan memasukannya ke dalam keranjang.
"Pak, apakah buah delima juga dipetik? sudah masak sekali," teriak istrinya. "Tidak usah, buah Ara saja, Titik" sahut Nasrudin berteriak.
Keesokan harinya Nasrudin pergi ke istana dengan membawa keranjang penuh dengan buah Ara yang sudah masak. Sesampai di istana, Nasrudin disambut sang raja. Lalu Nasrudin menghadiahkan keranjang yang penuh dengan buah Ara kepada raja. Anehnya, setelah mengambil keranjang buah itu, sang raja meletakkan lagi keranjang itu diatas meja, lalu mengambil satu persatu buah Ara itu dan dilemparkan ke muka Nasrudin.
Raja begitu kaget, melihat Nasrudin yang dilempari buah Ara mukanya tenang saja tidak mengelak sedikit pun. Tapi mulutnya malah terus mengucap, "Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah..."
"Kenapa kamu malah berucap Alhamdulillah setiap aku melemparmu buah Ara?" tanya sang raja dengan wajah keheranan.
"Saya tidak bisa membayangkan kalau permintaan istriku dikabulkan. Wajah dan hidung saya sudah seperti apa. Untung saya hanya mengijinkan istri saya memetik buah Ara yang masak saja," katanya sembari mengusap mukanya yang berlumuran buah Ara.
(diambil dari cerita di buku "A book of wisdom", Tasirun Sulaiman)