Kamis, 16 Desember 2010

MAGANG MELON

Dinas Pertanian&Kelautan Kota Cilegon mengadakan Magang Melon selama 40 hari, dengan peserta 20 orang warga Cilegon.

Senin, 27 Juli 2009

Pemakaian Obat Sembarangan Timbulkan Kelainan Kulit


Pemakaian Obat Sembarangan Timbulkan Kelainan Kulit
Banyaknya obat yang dijual bebas memicu pemakaian obat yang kurang rasional oleh masyarakat. Akibatnya, bukannya sembuh, justru terjadi alergi terutama pada kulit sebagai efek samping yang sebenarnya tidak dikehendaki. Tanpa penanganan medis yang tepat, kelainan kulit karena alergi obat itu juga dapat berakibat fatal, sampai menyebabkan kematian.

Hal itu diutarakan dr Usman Atmaprawira SpKK, ahli penyakit kulit dan kelamin RS Omni Medical Center (OMC), dalam seminar "Alergi pada Praktik Sehari-hari dan Drugs Eruption" yang diadakan oleh RS OMC di Jakarta, Sabtu (13/9). Seminar ditujukan untuk membekali dokter dengan pengetahuan mengenai kelainan kulit yang disebabkan oleh alergi obat agar tidak terjadi kekeliruan dalam mendiagnosis.

Usman juga menyinggung mengenai pemakaian obat tradisional atau jamu yang sekarang ini banyak dicampur dengan obat (modern) juga sangat berisiko menyebabkan kelainan kulit berupa alergi yang sering disebut allergic drug reaction. Namun, ia mengingatkan, efek obat yang tidak dikehendaki itu tidak selalu bersifat alergik, bisa juga tidak alergik. "Karena itu penting sekali untuk memperhatikan dasar-dasar diagnosis kelainan kulit karena alergi obat," katanya.

Ia menambahkan, dokter hendaknya sangat hati-hati dalam memberikan obat kepada pasien yang datang dengan keluhan, yang kemudian didiagnosis sebagai kelainan kulit. Harus diingat, kelainan yang dialami pasien itu dipicu oleh alergi obat.

Menurut Usman, setidaknya ada dua hal yang harus diperhatikan sebagai dasar diagnosis, yakni mengenai anamnesis yang diteliti dan kelainan-kelainan kulit yang ditemukan. Ia menjelaskan, anamnesis yang diteliti itu meliputi obat yang didapat penderita, tingkat keakutan, serta rasa gatal yang dikeluhkan yang kadang disertai demam. Sedangkan berdasarkan kelainan kulit yang ditemukan, dapat dilihat apakah distribusi kelainan menyeluruh dan simetris, serta memperhatikan bentuk kelainan yang timbul.

"Bentuk kelainan dapaat bermacam-macam. Alergi terhadap satu macam obat dapat memberi gambaran klinis yang beraneka ragam. Sebaliknya, gambaran klinis yang sama dapat disebabkan oleh alergi bermacam-macam obat," katanya.

Lebih lanjut Usman memaparkan berdasarkan bentuk-bentuk klinis, kelainan kulit akibat alergi obat itu dapat dibedakan menjadi delapan, eritema, pupura, urtikaria, dermatitis medikamentosa, eksantem fikstum, eritema nodusum, eritroderma serta eritema multiforme (EM).

Dari semua kelainan itu, yang paling sering ditemui adalah eritema, yaitu kemerahan pada kulit akibat melebarnya pembuluh darah yang disebabkan oleh alergi obat. Sedangkan yang paling parah adalah sindrom stevens-johnson atau yang biasa disebut sebagai eritema multiforme (EM) major, yakni kelainan yang muncul akibat alergi obat dan sering menyerang lubang badan terutama mulut dan alat kelamin (laki-laki).

"Untuk mengenal kelainan kulit karena alergi obat secara sistemik diperlukan anamnesis yang teliti. Dan, tentu saja harus mengenal bentuk-bentuk klinis kelainan tersebut," kata Usman. (H-13)


Artikel diatas untuk mengingatkan agar kita berhati-hati dalam meminum obat, selalu menjaga kesahatan..dan senatiasa berdo'a untuk memohon perlindungan dari Allah SWT serta tidak lupa untuk bersyukur atas segala karunia-NYa, seperti nikmat sehat.

Syafakillah ustadzah, Semoga Allah memberikan kesembuhan dengan cepat, pulih seperti sedia kala dan kembali mengisi pengajian di lingkungan kami, amin.

Senin, 20 Juli 2009

Ribuan Orang Mengiringi Pemakaman Pahlawan Jilbab

Selasa, 07/07/2009 15:56 WIB Cetak | Kirim
Ribuan orang mengantarkan jenazah Marwah Al-Sharbini ke tempat peristirahatannya yang terakhir di kota Alexandria, Mesir waktu setempat. Ribuan orang itu berjalan mengiringi peti jenazah Marwa yang mendapat sebutan "martir jilbab".

Kematian Marwa memicu kemarahan di kalangan komunitas Muslim di Jerman dan Mesir-negara asal Marwa-tetapi juga komunitas Muslim di berbagai negara. "Tidak ada Tuhan selain Allah dan orang-orang Jerman adalah musuh Allah," kata seorang warga Mesir yang ikut mengantarkan jenazah Marwa ke pemakaman.

"Kami akan membalas kematiannya. Barat, mereka tidak mau mengakui kita. Di sana ada rasisme," ujar Tarek Al-Sharbini, saudara lelaki Marwa.

Selain Marwa, suaminya juga menjadi korban dan sekarang masih dalam kondisi kritis di sebuah rumah sakit Dresden, Jerman. Suami Marwa secara tak sengaja terkena tembakan aparat saat sang suami mencoba melindungi istrinya yang diserang dengan senjata tajam oleh pemuda Jerman keturunan Rusia.

Peristiwa itu terjadi di ruang sidang di kota Dresden, saat Marwa akan memberikan kesaksian atas kasusnya. Marwa menuntut pemuda yang juga tetangganya itu ke pengadilan karena menyebutnya sebagai teroris hanya karena ia mengenakan jilbab. Marwa berada di Jerman mengikuti suaminya yang sedang melakukan riset dengan biaya beasiswa.

Menurut kakak lelaki Marwa, aparat mengira suami Marwa yang melakukan serangan sehingga petugas keamanan pengadilan itu menembaknya. "Para aparat keamanan itu berpikir, sepanjang orang itu tidak berambut pirang, maka dialah pelaku serangannya, dan mereka menembak suami Marwa," kata kakak lelaki Marwa.

Pemuda Jerman keturunan Rusia yang menyerang Marwa, bernama Alex W, 28, kini mendekam di penjara dan akan dikenakan tuduhan baru yaitu pembunuhan. Christian Avenarius, jaksa pengadilan Dresden mengatakan, Alex menusuk Marwa karena didorong rasa kebencian yang dalam terhadap Islam, karena sejak awal pengadilan, Alex yang berimigrasi ke Jerman tahun 2003 sudah mengungkapkan pernyataan-pernyataan anti-Islam dan anti-Muslim.

Dari wawancara di beberapa media Mesir, keluarga Al-Sharbini di Mesir mengatakan bahwa pelaku penusukan sudah sering menghina dan melecehkan Marwa, bahkan pernah mencoba melepas jilbab Marwa. Ibu Marwa, Laila Shams mengungkapkan, Marwa juga kesulitan mendapat kerja di Jerman karena ia mengenakan jilbab.

"Suatu kali, Marwa pernah disuruh melepas jilbab jika ingin mendapatkan kerja, tapi Marwa menolaknya," kata sang ibu.

Menanggapi kasus Marwa, Jubir pemerintah Jerman Thomas Steg mengatakan bahwa insiden ini berlatar belakang rasial dan pemerintah mengutuk keras pelakunya. Pemerintah Jerman baru bersuara atas kasus ini, setelah komunitas Muslim di negara itu mengecam pemerintah dan para politisi di Jernam yang diam saja atas kasus tersebut.

Menyindir sikap pemerintah dan para politisi di Jerman, harian independen di Mesir, El-Shorouk menulis, kalau korbannya Yahudi, barulah dunia gempar. Seorang bloger Mesir bernama Hicham Maged dalam blognya menulis,"Mari kita bayangkan, jika kondisinya dibalik, korban adalah orang Barat yang ditusuk di dunia atau di salah satu negara Timur Tengah oleh seorang Muslim ekstrim."

Atas insiden yang menimpa Marwa, Asosiasi Farmasi Mesir sudah menyerukan boikot terhadap obat-obatan dari Jerman.

Pemerintah Mesir belum mengeluarkan pernyataan atas peristiwa yang menimpa warga negaranya. Belum jelas apakah pemerintahan Husni Mubarak akan menuntut pemerintah Jerman bertangung jawab atas kasus ini. (ln/aljz/isc)

(diambil dari : http://eramuslim.com)

Kamis, 16 Juli 2009

Teman...


Teman datang dan pergi...
Pernah bersama dalam komunitas yang sama, kecocokan membuat kita merasa dekat..walaupun ada jg ketidakcocokan..namun ikatan perasaan yg terbangun dg hubungan yg kita jalin setiap waktu membuat kita merasa bahwa itu adalah pertemanan.
Kegiatan..percakapan..canda tawa..kebersamaan..sampai masalah2 yg bikin kita pusing..membuat kita semakin yakin kalo kita sudah berteman.

Semenjak kecil sampai dewasa..sudah berapa byk teman yg datang dan pergi silih berganti...
Berkenalan..bersama..sampai akhirnya berpisah karena jarak yg memisahkan..kemudian ada yg menggantikan..dan seterusnya...
Ada suka..ada duka..ada cerita..ada hikmah..ada kenangan..itu yang tak pernah terpisahkan dari arti "teman"
Teman....walau jarak memisahkan kita, percakapan antara kita sdh tidak seperti dulu lagi..tidak ada kegiatan yg kita lakukan bersama lagi...tapi kenangan tentang kalian tetap tersimpan rapih didalam hati..indah..karena hidup akan hampa tanpa ada teman.

Terima kasih...

Semoga Allah swt selalu memberikan keberkahan untuk kalian semua teman-temanku..yg dekat maupun yg jauh..yg datang atau yg pergi...amiiin.
Senang Susah Tetap Bersyukur


Suatu sore Nasrudin ditemani istrinya pergi ke kebun. Mereka berdua ingin memetik buah-buahan yang kelihatannya sudah mulai masak untuk diberikan kepada raja. Maklum raja Timurlenk rupanya punya hubungan yang sangat dekat dengan Nasrudin. Meski dia raja yang kejam, tapi kepada Nasrudin dia tetap berlaku sopan dan hormat. Barangkali karena kemasyhuran dari kesalehan dan kearifan yang ada pada diri Nasrudin yang membuat Timurlenk menaruh simpati.

Ketika mereka berdua sedang asyik memetik buah Ara (buahnya mirip tomat), istri Nasrudin berkata "Apakah tidak lebih baik kalo apel yang sudah masak juga dipetik?Tentu baginda raja akan sangat senang sekali".

Tapi jawaban Nasrudin mengherankan "Sudah petik saja apa yang saya perintahkan. Kalau saya bilang jangan, maka jangan coba-coba memetiknya."

Mereka berdua kembali sibuk memetik buah Ara dan memasukannya ke dalam keranjang.

"Pak, apakah buah delima juga dipetik? sudah masak sekali," teriak istrinya. "Tidak usah, buah Ara saja, Titik" sahut Nasrudin berteriak.

Keesokan harinya Nasrudin pergi ke istana dengan membawa keranjang penuh dengan buah Ara yang sudah masak. Sesampai di istana, Nasrudin disambut sang raja. Lalu Nasrudin menghadiahkan keranjang yang penuh dengan buah Ara kepada raja. Anehnya, setelah mengambil keranjang buah itu, sang raja meletakkan lagi keranjang itu diatas meja, lalu mengambil satu persatu buah Ara itu dan dilemparkan ke muka Nasrudin.

Raja begitu kaget, melihat Nasrudin yang dilempari buah Ara mukanya tenang saja tidak mengelak sedikit pun. Tapi mulutnya malah terus mengucap, "Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah..."

"Kenapa kamu malah berucap Alhamdulillah setiap aku melemparmu buah Ara?" tanya sang raja dengan wajah keheranan.

"Saya tidak bisa membayangkan kalau permintaan istriku dikabulkan. Wajah dan hidung saya sudah seperti apa. Untung saya hanya mengijinkan istri saya memetik buah Ara yang masak saja," katanya sembari mengusap mukanya yang berlumuran buah Ara.

(diambil dari cerita di buku "A book of wisdom", Tasirun Sulaiman)